Friday, October 22, 2010

bungaku



bungaku, mekarmu menyejukkan jiwaku
merah-mu, biru-mu, putih-mu bahkan hitam-mu

menghibur saat galau hinggap di pikiranku
menyemangati saat malas menerpaku
memberi keyakinan saat ragu berkecamuk di hatiku

gemulaimu mampu bertahan di tengah tandusnya gurun
lembutmu mampu bartahan dalam terjangan hujan badai
kasihmu menghasilkan madu
kelemahanmu adalah kekuatanmu

saat dekat denganku, tak bosan aku memandangmu
saat jauh dariku, selalu aku merindukanmu

bungaku, mekarmu akan kujaga sampai senja menjelang


dedicated to my wife

Tuesday, October 19, 2010

Catatan kecil di 2008…

Seorang teman Pakistan bekerja di Indonesia…
Empat pekan pertama dia tidak berani ke luar dari apartemen-nya karena takut dan belum kenal negeri ini.
Akhir pekan ke-lima, dia sudah mulai berani belanja di salah satu swalayan besar dekat apartemennya. Itupun setelah dia memberanikan diri, tanya sana-sini, browsing sana-sini buka website tentang negeri ini… dll
Akhir pekan ke-enam….
Dia sudah berani jalan-jalan di pasar tradisional… beli buah-buahan, beli sayuran dll… tentu dengan bahasa isyarat. Hehehe... bayar pakai uang pecahan 50.000,- trus tunggu kembalian dari si penjual.

Akhir pekan ke-tujuh dan seterusnya….

Belanja di pasar tradisional paka acara nawar…

Berikut komentarnya:
“Indonesia aadalah negara yang sangat indah, subur dan kaya. Banyak hasil bumi berupa buah-buahan. Ada rambután, pepaya, semangka dan banyak sekali daun-daunan segar di pasar yang dimakan sebagai salad (lalapan) yang bahkan belum pernah saya lihat sebelumnya”. Semangat sekali kawan kita ini bercerita.


“Sayangnya saya juga melihat banyak sekali buah-buahan import di supermarket, dan sepertinya, buah-buahan lokal kurang dapat bersaing di sana, padahal buah lokal tidak kalah rasanya dengan buah-buahan import, ya kan?”. Seolah mencari pembenaran dia melanjutkan .

“Tetapi…. Seperti semua negara berkembang di asia… negara kamu dan negara saya sangat kental dengan kasus korupsi. Hampir di semua sektor, bayangkan jika pemerintah kamu membina para petani sehingga buah-buahan tropis dari Indonesia bisa diekspor… niscaya Indonesia ini akan lebih maju”

Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya. Memang itulah kenyataannya.

“Tetapi….” Dia menambahkan.”di negara saya, isu kemanan juga menjadi hal yang paling utama, orang-orang tidak bisa berjalan-jalan secara bebas di jalanan seperti di sini. Di negara saya, beberapa tempat memberlakukan jam malam. Kamu tahu kan kalau Pakistan itu berbatasan dengan Afghanistan?” aku menggangguk mengiyakan.”Di Indonesia ini semua tempat terasa aman”. Lanjutnya

“Kamu harus bersyukur bisa tinggal di negeri yang indah dan aman ini” pungkasnya.

Kalau dipikir-pikir…. Betul juga dia. Teringat lagu KOESPLUS “….orang bilang tanah kita tanah surga, tonggak kayu dan batu jadi tanaman…….. bukan lautan hanya kolam susu…”

Terima kasih ya Allah, alhamdulillah… engaku takdirkan aku untuk hidup di negeri ini. Negeri yang subur makmur aman tenteram…

lelah memikirkannya...





……..teringat quote:
“……jika kamu mengeluh karena pasangan-mu…
bayangkan seseorang yang selalu berdo’a setiap malam meminta jodohnya…”

Doa Minta Jodoh

Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku,
dekatkanlah….
Tapi kalau bukan jodohku,
maka jodohkanlah…

Jika dia tidak berjodoh denganku,
maka jadikanlah kami jodoh…

Friday, October 15, 2010

Sulitnya menentukan pilihan...

Teringat kembali tulisan mengenai keinginan memiliki aston martin.
Semakin hari semakin terasa tipis saja batas antara keinginan dan kebutuhan.

Huh….

Semakin sulit saja menentukan pilihan. Kenapa?
Mungkin karena terlalu banyaknya pilihan.

Ada windows ada apple ada linux
Ada symbian ada blackberry ada andriod ada apple ada windows mobile
Ada angkot ada ojek ada taksi ada bis ada kereta
Ada telkomsel ada indosat ada XL ada axis ada 3 ada flexi ada smart ada esia ada fren

Atau… Mungkin karena terlalu banyak godaan?

Entahlah…

Apapun alasan-nya, pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk selalu serakah, kemaruk, tamak.
Sudah punya satu, pengen punya dua. Sudah punya barang type canggih, pengen punya yang lebih canggih…

Saat pikiran dikendalikan hawa nafsu, saat itu pula batas antara keinginan dan kebutuhan semakin semu dan samar.

Mari kita sama-sama berdoa :


“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”(HR Muslim 4899)
Amin..

Tuesday, October 12, 2010

"kamu salah, saya benar"

“kamu salah, saya benar”
“seharusnya begini, bukan begitu”


Begitu mudah kita menyalahkan orang lain, kenapa?
Contoh :
Okober 2010:
SBY menunda kunjungan ke Belanda karena isu RMS, bencana banjir Wasior yang “katanya lambat” ditangani atau issue pakaian presiden yang harganya ratusan juta.

Issue teroris:
“ngapain saja para intel dan Densus 88 selama ini? Setelah bom-nya meledak baru deh ribut nangkepin teroris”
atau komentar ini “Densus 88 gimana sih? Belum terbukti teroris aja sudah main tangkap”

Issue Malaysia:
“mari kita nyatakan perang dengan Malaysia”
“Presiden kita kurang tegas menghadapi Malaysia yang semena-mena”

Sekali lagi, kenapa kita terlalu gampang menyalahkan, menghakimi, memberi opini, bahkan mencaci maki orang lain yang “seolah-olah” berbuat salah.

Saya melihat fenomena ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Saya berada di posisi seolah sebagai orang yang sedang mengamati pendengar siaran radio sebuah pertandingan sepakbola. Di mana saya dan para pendengar lain tidak bisa menyaksikan pertandingan tersebut, tetapi hanya mendengarkan reporter yang bersemangat menggambarkan jalannya pertandingan. Ingat... selain saya ikut mendengarkan siaran, tetapi saya juga memperhatikan tingkah laku pendengar lain.

Saya perhatikan, semua pembicaraan reporter ditelan bulat-bulat oleh seluruh pendengar. Umpatan dan cacian keluar dari mulut pendengar yang kesal karena terbawa emosi. Padahal para pendengar sebelumnya belum pernah kenal dengan reporter tersebut. Tetapi kenapa mereka sangat percaya ya? Coba bayangkan jika ternyata si reporter itu berbohong? Tetapi para pendengar tidak peduli. Yang penting mereka dapat mengumpat dan mencaci sesuka hati. Toh pemain bola yang mereka umpat juga tidak mendengar.

Hal ini terjadi karena para pendengar tidak mencerna informasi yang diterima. Begitu pula kita sebagai warga negara. Sering kita menelan bulat-bulat informasi yang kita saksikan di televisi, yang diulang-ulang terus menerus, padahal stasiun televisi bisa saja menampilkan berita negatif karena ingin menjatuhkan seseorang atau hanya sekedar membuat “kehebohan” supaya rating-nya naik dan banyak perusahaan yang tertarik untuk memasang iklan.



Ingatkah anda dengan lagu “semut yang di seberang lautan jelas kelihatan, tapi gajah dipelupuk mata tiada kelihatan” ?



Ya, itu lagu dari Bang Haji…

Sadarkah kita akan hal itu?
Sudah bijak-kah sikap kita dalam menanggapi berita di media massa?
Silahkan menilai diri anda sendiri.